Sejarah, Dakwah, dan Pemikiran Hadlrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari
Oleh Mawaddatul Ula, S.PdI
Hadlrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Indonesia. Beliau adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki peran kunci dalam perkembangan agama dan masyarakat di tanah air. Artikel ini akan membahas tentang sejarah, dakwah, dan pemikiran yang diusung oleh Hadlrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari.
Latar Belakang dan Awal Perjalanan
Hasyim Asy’ari lahir pada tanggal 10 Februari 1871 di dukuh Gondanglegi, Jombang, Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga santri yang religius, dan sejak kecil, ia telah mendapatkan pendidikan agama yang kuat dari ayahnya, K.H. As’ad, seorang ulama terkemuka di daerahnya. Hasyim Asy’ari kemudian melanjutkan pendidikan agamanya di pesantren Tebuireng, yang juga diasuh oleh ayahnya.
Peran dalam Pemberontakan dan Persatuan Umat
Pada awal abad ke-20, Indonesia menghadapi berbagai tantangan politik, sosial, dan ekonomi akibat kolonialisme Belanda. Hasyim Asy’ari terlibat dalam perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan kolonial melalui aksi dakwah dan pendidikan. Ia juga mendukung perjuangan melawan Belanda dalam Perang Jawa 1825-1830.
Salah satu kontribusi penting Hasyim Asy’ari adalah perannya dalam mengedepankan persatuan umat Islam di tengah keragaman etnis dan budaya di Indonesia. Ia mengajarkan bahwa kesatuan dalam agama harus lebih kuat daripada perbedaan-perbedaan lainnya. Pendiriannya ini mendasari filosofi Nahdlatul Ulama, organisasi yang didirikannya pada tahun 1926.
Nahdlatul Ulama: Sebuah Gerakan Keagamaan dan Sosial
Nahdlatul Ulama (NU) didirikan oleh Hasyim Asy’ari sebagai jawaban atas isu-isu sosial dan agama yang dihadapi oleh masyarakat pada masanya. Organisasi ini didirikan dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman agama yang moderat, mengedepankan toleransi, dan memberikan solusi bagi permasalahan masyarakat.
NU memainkan peran penting dalam menyebarkan Islam yang ramah dan inklusif di seluruh Indonesia. Organisasi ini juga mendukung pendidikan dan pengembangan masyarakat di berbagai bidang, termasuk pendidikan formal dan ekonomi. NU menjadi penghubung antara pesantren, masyarakat, dan pemerintah dalam memajukan kesejahteraan umat.
Pemikiran Keagamaan dan Toleransi
Pemikiran keagamaan Hasyim Asy’ari menekankan pada pentingnya mengutamakan substansi agama daripada formalitas. Ia menentang ajaran-ajaran radikal dan fanatik, serta mengedepankan toleransi antarumat beragama. Pemikirannya yang moderat dan inklusif ini tercermin dalam ajaran dan pandangan Nahdlatul Ulama.
Warisan dan Pengaruh
Hasyim Asy’ari meninggal pada tahun 1947, tetapi warisannya terus hidup dalam bentuk Nahdlatul Ulama. NU terus menjadi kekuatan sosial dan keagamaan yang berperan dalam pembentukan karakter dan moral bangsa. Pemikiran toleransi, moderasi, dan kesatuan yang diusung oleh Hasyim Asy’ari masih relevan dalam menghadapi tantangan keberagaman dan ekstremisme di era modern.
Dalam perjalanan hidupnya, Hasyim Asy’ari telah menunjukkan bahwa keagamaan dan nasionalisme dapat berjalan seiringan. Ia berhasil mengembangkan konsep keagamaan yang tidak hanya memandang urusan agama, tetapi juga kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Kesimpulan
Hasyim Asy’ari adalah sosok yang memainkan peran penting dalam membentuk wajah Islam di Indonesia. Melalui pendiriannya, Nahdlatul Ulama menjadi agen perubahan sosial dan agama yang mengedepankan toleransi, moderasi, dan kesatuan. Warisannya terus memotivasi umat untuk berjuang demi kebaikan bersama dan membangun masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman.
Berikut detail Sejarah, Dakwah, dan Pemikiran Hadlrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari
Jika ingin mendownload, berikut link nya https://drive.google.com/file/d/1VMyP7Mv9nw2on1HztRaf57hYQiKKb1Rm/view?usp=sharing
Ziarah Makam Pahlawan
PULUHAN SANTRI PONPES AL MUHSIN ZIARAHI MAKAM PAHLAWAN NASIONAL DI JOMBANG
Selain mendoakan almarhum KH Wahab Hasbullah, puluhan santri ini juga mengaku berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir.
Saat dikonfirmasi, salah satu peserta ziarah makam, Solehuddin Ahmad mengikuti ziarah makam ini demi kemaslahatan umat dan agar sambung dengan perjuangan para pendahulu.
Perlu diketahui, KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab merupakan salah satu Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang juga pencipta syair “Ya Lal Wathon” yang banyak dinyanyikan dikalangan Nahdliyyin.
Solehuddin menyebutkan, Mbah Wahab selalu menjadi tokoh panutan bagi masyarakat, “Tentunya ini terus dipertahankan demi kemaslahatan umat sebagai tauladan sehingga para santri bisa sambung dengan perjuangan para pendahulu.” ungkapnya.
Selain melakukan ziarah ke makam KH Abdul Wahab Hasbullah, rombongan santri pondok pesantren Al-Muhsin juga menyempatkan melakukan ziarah ke makam-makam ulama penyebar agama Islam di Indonesia. Dimulai dari makam KH.Chamim Jazuli (Gus Miek) Ploso Kediri, ke makam makam Setono Gedong (Syekh Wasil Syamsudin atau Pangeran Mekah) Kediri, lalu ke makam Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi (pengasuh Ponpes Al Ihsan Jampes) di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, hingga ke makam Mbah Sayid Sulaiman di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung Jombang.
Kegiatan ziarah makam ini juga diikuti beberapa tenaga pengajar SMK Islam 1 Blitar dengan tetap mempertahankan protokol kesehatan 5 M secara ketat. Yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, hingga membatasi mobilitas dan interaktif.