SMK Islam 1 Blitar Gelar Donor Darah Bersama PMI Warnai Harlah ke-58

SMK Islam 1 Blitar Gelar Donor Darah Bersama PMI Warnai Harlah ke-58

Blitar, 28 Januari 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-58, SMK Islam 1 Blitar bekerja sama dengan Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Blitar menggelar kegiatan donor darah yang melibatkan bapak/ibu guru, karyawan, serta siswa-siswi sebagai bentuk kepedulian sosial dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kegiatan donor darah ini dilaksanakan di lingkungan SMK Islam 1 Blitar dan disambut dengan antusias oleh seluruh peserta. Sejak pagi hari, para pendonor secara tertib mengikuti proses pemeriksaan kesehatan hingga pengambilan darah yang ditangani langsung oleh tim medis profesional dari PMI Kota Blitar. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda peringatan harlah, tetapi juga sarana edukasi pentingnya donor darah sebagai aksi kemanusiaan yang berkelanjutan.

Kepala SMK Islam 1 Blitar, Drs. H. Gigih Widiyanto, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan donor darah ini merupakan wujud komitmen sekolah dalam menanamkan nilai kepedulian sosial dan kemanusiaan kepada seluruh warga sekolah.

“Melalui momentum Harlah ke-58 ini, kami ingin menegaskan bahwa SMK Islam 1 Blitar tidak hanya fokus pada prestasi akademik dan vokasi, tetapi juga aktif membangun karakter empati, kepedulian, dan pengabdian kepada sesama,” ungkapnya.

Selain membantu memenuhi kebutuhan stok darah PMI Kota Blitar, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi siswa untuk terlibat dalam aksi sosial yang bermanfaat. Sinergi antara sekolah dan PMI diharapkan dapat terus berlanjut sebagai bentuk kolaborasi positif dalam bidang kesehatan dan kemanusiaan.

Melalui kegiatan donor darah ini, SMK Islam 1 Blitar menegaskan perannya sebagai satuan pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan kompeten, tetapi juga berkarakter, berjiwa sosial, dan siap memberi manfaat bagi masyarakat luas, sejalan dengan semangat Harlah ke-58 SMK Islam 1 Blitar.

Meneladani Orang-Orang yang Diberi Nikmat Allah: Nabi, Shuhada, Sholihin, dan Shiddiqin

Meneladani Orang-Orang yang Diberi Nikmat Allah: Nabi, Shuhada, Sholihin, dan Shiddiqin

Blitar, 27 Oktober 2024 – Dalam sebuah acara anjangsana dan santunan anak yatim yang diselenggarakan oleh SMK Islam 1 Blitar di kediaman Ibu Lucky Prabawati, Dusun Balong, Desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, KH Subakir, M.Ag menyampaikan ceramah bertema “Menjadi Sholihin di Era Modern.” Beliau membahas pentingnya meneladani orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, Shuhada, Sholihin, dan Shiddiqin, sebagai bentuk aspirasi tertinggi bagi umat Muslim dalam menggapai kehidupan yang diridhai Allah.

KH Subakir menjelaskan bahwa Allah telah mengaruniakan nikmat-Nya kepada mereka yang bertaqwa dan berjuang di jalan kebaikan. Para nabi dipilih untuk membawa risalah, para shuhada mendapat derajat tinggi karena berkorban di jalan Allah, para shiddiqin meniti jalan keimanan dan kebenaran tanpa ragu, dan para sholihin ialah mereka yang menjalani hidup dengan ketulusan dan kebaikan hati yang terus-menerus. Beliau menekankan bahwa meneladani mereka adalah langkah penting bagi siapa pun yang ingin hidup sesuai ajaran agama dan mendapatkan berkah dari Allah.

KH Subakir kemudian menguraikan lima hal yang sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjadi pribadi yang sholihin:

  1. Qonaah dalam Kebodohan
    Sikap menerima tanpa berusaha meningkatkan pemahaman agama dan pengetahuan dapat menghambat seseorang untuk berkembang. KH Subakir menekankan pentingnya belajar, terutama ilmu agama, sebagai jalan mencapai kebaikan dan kesalehan.
  2. Tamak kepada Dunia
    Mengedepankan kehormatan, pangkat, dan harta benda tanpa memedulikan keseimbangan spiritual adalah salah satu penghalang utama. Tamak terhadap dunia sering kali menjauhkan seseorang dari kesederhanaan dan keikhlasan yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang sholeh.
  3. Pamer (Riya’) dalam Beramal
    Berbuat baik dengan tujuan mendapatkan pujian atau perhatian adalah perbuatan yang mencederai ketulusan. KH Subakir mengingatkan bahwa segala amal hendaknya dilakukan murni karena Allah, bukan demi pandangan manusia.
  4. Pelit yang Berlebihan
    Kikir atau enggan berbagi nikmat yang dimiliki, terutama terhadap sesama yang membutuhkan, menunjukkan kurangnya empati dan rasa syukur. Beliau mengajak setiap Muslim untuk memperhatikan sesamanya dan bersedekah, sebagai wujud dari kepedulian dan cinta kasih dalam Islam.
  5. Lalai dalam Beribadah
    Menunda atau enggan beribadah merupakan hal yang secara perlahan menjauhkan seseorang dari jalan kesalehan. KH Subakir menegaskan bahwa menjaga rutinitas ibadah wajib dan sunnah adalah pondasi bagi siapa pun yang ingin menjadi pribadi yang sholihin.

Acara tersebut diakhiri dengan doa bersama dan santunan untuk anak-anak yatim, sebagai bentuk kepedulian dan upaya menanamkan semangat berbagi di tengah masyarakat. KH Subakir berharap pesan-pesan ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh peserta, khususnya santri dan anak-anak yatim yang hadir, untuk terus berjuang menjadi generasi yang baik, sholihin, dan berguna bagi masyarakat serta agama.